Adaptive Cooperative Resilience Model (ACRM): Pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih Dalam Menghadapi Gejolak Ekonomi Nasional dan Global

Authors

  • Iwan Mulyana Universitas Koperasi Indonesia

Abstract

Memasuki dekade ketiga abad ke-21, dinamika perekonomian dunia semakin diwarnai oleh ketidakpastian yang bersifat multidimensional. Dampak pandemi COVID-19 yang belum sepenuhnya pulih diikuti oleh meningkatnya ketegangan geopolitik, gangguan rantai pasok global (global supply chain disruption), volatilitas harga energi dan pangan, tekanan inflasi, percepatan transformasi digital, serta meningkatnya risiko perubahan iklim. Berbagai perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perekonomian global memasuki era yang ditandai oleh tingkat ketidakpastian yang semakin tinggi sehingga menuntut setiap pelaku
ekonomi memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan resiliensi yang lebih kuat. Laporan International Monetary Fund (IMF) menegaskan bahwa ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi stabilitas pertumbuhan ekonomi berbagai negara, termasuk negara berkembang seperti Indonesia. Demikian pula, World Bank menekankan bahwa penguatan kapasitas kelembagaan dan kemampuan beradaptasi merupakan prasyarat penting untuk menjaga keberlanjutan pembangunan ekonomi di tengah meningkatnya risiko global.

References

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Indonesia 2024. Jakarta: BPS.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2025). Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029. Jakarta.

Kementerian Koperasi Republik Indonesia. (2025). Petunjuk teknis pembentukan dan pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Jakarta.

Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia. (2024). Indeks Desa Membangun (IDM) Tahun 2024. Jakarta.

Kementerian Keuangan Republik Indonesia. (2025). Kajian Ekonomi Makro Indonesia. Jakarta.

Bank Indonesia. (2025). Laporan Perekonomian Indonesia 2025. Jakarta.

Downloads

Published

2026-08-12